Opini

Masihkah Kita Patut Disebut Bangsa Yang Ramah Dan Sopan?

Reformasi tahun 1998 memang membawa banyak perubahan mendasar. Perubahan yang dimotori oleh para mahasiswa, hasilnya dapat kita rasakan sekarang ini. Namun sayangnya, perubahan yang didapat tidak seluruhnya positif. Ada beberapa perubahan negatif yang justru —bagi saya— sangat mencemaskan.

  • Rakyat kita menjadi mudah sekali mengamuk, merusak, bahkan menganiaya orang lain hingga tewas. Bahkan oleh suatu masalah yang pemicunya sepele. Mahasiswa ketika “mengamuk”, setidaknya masih dalam garis komando dan tidak sampai membuat orang / aparat tewas. Paling-paling senjata mereka hanya batu atau bambu untuk tiang panji-panji. Tapi ketika hal itu ditiru oleh masyarakat luas, maka dampaknya sulit dibayangkan. Dalam kelompok, massa akan merasa “memakai topeng” dan “tidak terlalu bersalah”. Senjatanya pun sangat mengerikan, mulai dari bom molotov sampai golok dan samurai. Karena itulah mereka sampai berani menjarah, memukuli, bahkan membunuh.
  • Timbul anggapan di masyarakat bahwa dengan berdemonstrasi anarkis, segala tuntutannya akan dipenuhi. Dan timbul juga anggapan bahwa demonstrasi harus anakis. Jika tidak anarkis, itu berarti demonstrasi memasak ibu-ibu PKK.
  • Sopan-santun seolah hilang. Seorang anak sekolah atau mahasiswa bahkan tanpa sungkan memanggil orang yang jauh lebih tua daripada dirinya tanpa sebutan bapak atau ibu. Terhadap orang yang sudah meninggal pun, rakyat Indonesia masih tega memaki-maki.
  • Gengsi memberi penghargaan dan pujian. Jika ada orang lain berbuat positif, justru yang dicari-cari adalah kesalahannya.
  • Tidak malu berbuat salah. Contoh paling nyata adalah perilaku di jalan raya. Sopir angkutan umum seringkali —dengan perasaan tanpa bersalah— menghentikan kendaraannya di tengah jalan. Ketika ditegur, justru jawabnya, “Memang ini jalan nenek moyang lu?”

Sungguh, hal ini jauh berbeda dengan yang saya dapatkan ketika masih duduk dibangku SD dulu. Dulu guru saya selalu berkata bahwa kita adalah bangsa yang paling ramah di dunia. Tapi jika dipikir-pikir, sekarang justru orang-orang Barat lah yang lebih sopan. Di kota-kota besar di Eropa sekali pun, jika kita mondar-mandir 5 kali saja, pasti ada orang yang menghampiri sambil menyapa dengan ramah, “May I help you?” Tapi di kota-kota besar di Indonesia, sampai besok pagi pun tak ada yang akan mempedulikan. Malah salah-salah bisa digebuki orang sekampung karena disangka hendak berbuat jahat.

Kita harus hentikan “kebiasaan” buruk ini. Mulailah dari diri kita, lalu keluarga kita. Ajari anak-anak kecil (adik, keponakan, anak, cucu, dll) untuk menghormati orang tua, menghormati hak orang lain, menyayangi orang lain, membuang sampah pada tempatnya, dan sebagainya. Biarlah satu generasi ini telah “rusak”, sebagai martil untuk kemajuan bangsa di masa depan. Generasi berikutnya harus menjadi generasi yang tidak meniru keburukan generasi kita. Semoga bangsa Indonesia kembali menjadi bangsa yang ramah dan menyenangkan. Amin.

Leave a Reply

Instagram